Tahun 2020 telah datang dan kini Bergantung pada Akar Lapuk telah sampai di edisi keduanya. Tentu saja hal tersebut sama sekali bukanlah sesuatu yang besar, pun usaha kami selama ini mungkin sangat jauh dari keberhasilan dalam ukuran umum; tanpa alasan serta tujuan yang jelas, kami juga tak terlalu yakin kenapa kami terus saja mencoba melakukan kesemuanya.

Bohong bila kami mengaku begitu mencintai puisi apalagi memahami riwayat serta berbagai macam implikasinya dalam kehidupan. Selama ini kesadaran kami hanya berputar-putar di antara biasa saja dan masa bodoh tentangnya, meski sebenarnya banyak pula momen-momen yang sulit dijelaskan dengan kata-kata saat membaca sesuatu yang sering orang sebut sebagai puisi—sama halnya saat menyaksikan anak-anak muda nongkrong di depan minimarket, saat menutup hidung ketika melintasi buntalan-buntalan dan sampah yang berceceran di pinggir pasar, atau kala mendengar raung sirine di tengah malam. Kemungkinan besar semua orang pernah merasakan hal serupa, merasakan puisi, baik tahu atau pun tak peduli dengan meme ribuan tahun bernama bahasa dan puisi, tak hanya orang-orang di gedung-gedung akademia atau mereka yang banyak membuang waktu dengan membaca. Jujur saja, kami pun tak pernah merasa mampu mendefinisikan puisi selain mengulang berbagai penjelasan yang bisa kami akses di internet.

Kami pernah membaca sebuah ungkapan menarik tentang bagaimana cerita dan prosa-prosa bernarasi indah ditulis untuk merayakan gemerlap serta drama spektakuler kehidupan—sementara puisi adalah sukacita atas kematian. Entah apa lacur maksud dari ungkapan tersebut, tetapi benar saja, suatu saat nanti kita akan mati, tak ada hal lain yang lebih pasti dari hal ini, tak ada pula yang spesial dari hal ini. Mungkin seperti itulah puisi, segala sesuatu yang terjadi setelah terbangun dari tidur sampai akhirnya terlelap dalam gelisah dan mungkin takkan pernah terbangun lagi.

Peradaban telah berjalan ribuan tahun, tetapi masih saja ada yang hidup dalam kekurangan meski saat ini segalanya serba berlebih dan bahkan mubazir. Alih-alih berpikir muluk-muluk lalu menuliskannya dengan berbagai ekspektasi, mungkin akan lebih menarik bila kita lebih sering menjarah segala sesuatu yang masih tersisa saat ini, mereproduksinya, menyusunnya kembali, toh apa lagi yang hendak kita cari saat ini? Sia-sia atau pun tidak, siapa pula yang peduli. Orang-orang hebat yang tercatat dalam sejarah memang telah berhasil merubah dunia dan sampailah kita pada momen ini, namun bagaimana bila ternyata yang lebih perlu kita lakukan adalah meninggalkan kesemuanya sejauh mungkin semampu kita? Bagaimana bila yang lebih genting bukanlah pembangunan, tetapi melancarkan penghancuran, atau setidaknya merawat sakit sembari menyebarkan sukacita kala segalanya hancur perlahan atau pun seketika? Mungkin, mungkin saja hal itulah yang coba kami lakukan saat ini, tanpa alasan dan tujuan apa pun selain karena kami memang ingin melakukannya, setidaknya itulah yang kami rasakan.

Tak banyak lagi yang bisa kami sampaikan selain ucapan terima kasih kepada semua yang telah berkenan mempercayakan tulisan mereka untuk ditayangkan di edisi kedua Bapuk, tempat ini pasti takkan bisa terwujud tanpa kontribusi teman-teman. Selamat datang dan terima kasih pula, pada siapa pun yang berkenan mampir atau mengabarkan keberadaan tempat ini kepada kerabat dan kolega. Semoga berkenan dan semoga kita bisa berjumpa kembali di kesempatan berikutnya.

helen & pulasara_

 





 

Bergantung pada Akar Lapuk (selanjutnya akan disebut Bapuk) adalah sebuah serambi terbuka yang dikhususkan untuk puisi dari siapa pun yang mungkin tertarik dan berkenan terlibat. Bapuk dikelola secara mandiri oleh @aptika_ dengan orientasi pada kreasi spontan tanpa melihat identitas kontributor, seluruh kiriman akan ditampilkan tanpa proses seleksi maupun kurasi. Pada dasarnya, Bapuk hanya tertarik pada segala bentuk luapan energi serta potensi puisi sebagai medium—tanpa batasan, tanpa konteks, juga tanpa tujuan apa pun.