Senyap di Persimpangan

Membacamu seperti puisi-puisi sunyi yang 
ditangisi
tapi tak pernah menggetarkan katup bibir
setelah kau pun menanggalkan baju
mereka perlahan memejam
menjadi asing
meninggalkamu sebagai puisi yang tak pernah selesai
terbaca meski di sekolah mereka telah tamat mengeja

 

 

 

Meja Makan

Ketakutan atau
mungkin meja makan adalah kesedihan yang lelap di sampingku
selepas aku merencanakan pergi bulan dan makan babi di sana
sementara upaya mengurat pekat tampak seperti kematian tanpa pemakaman
mulut-mulut dan jari-jari menyumpalku 
“Manusia rumpang—masih terjungkal-jungkal untuk sekadar maaf dan pemaafan!

Pembenci!

Munafik!

Pendusta!

—pantas kau diragukan dan dibuang. ”

di tengah kegaduhan antara ruang rahim dan ajal,
“Apakah aku sejalang itu—saat ingin menjadi rekah yang merona sekali lagi?”

 

 

Retak

Sebelum usai aku bermesraan dengan kesia-siaan
merengkuh luka; bergumul bersama peri-peri yang tertawa dengan semesta
membasuh rasa yang bugil
mereka telah menamaiku pendosa;

suaraku adalah rupa kegagalan
dibunuh di jalanan, di warung kopi, di atas sepeda motor, di warung makan, di bangku taman, di sekat-sekat percakapan,
oleh mereka yang mendaku teman dan orang asing
aku;
cerita buruk.

 

 

 

Pekarangan

“Nak, seseorang di rumah yang lain menyebutmu kasih, lagi. Ia tengah memeluk tubuh lain.”

Aku tertawa hingga nyeri perutku kembali datang.

Saat itu aku sedang mengumpulkan tomat dan ubi di pekarangan,
mendengar kisah resah uang.
Bapak membisikkan puisi
ibu mengusap alisku,
“Mata lahir dari bulan,
Aku mencintaimu seperti bayi atau pun anak ayam.”

Aku lupa kalimat pertama dalam puisi
Aku mati berkali-kali tapi entah bagaimana lahir dengan 
semburat nadi-nadi yang menagihmu kembali

 

oleh The Moon