Sajak Majenun

Dalam hening
Kau bersuara paling nyaring
Mataku kunang
Isyaratku tak tenang
Dosaku menang
Dan aku: pecundang
Menjelma tongkang
Dilahap ombak: hilang
Tenggelam dalam palung
Disapu ke teluk: pada petang
Aku meradang
Melupakan jalan pulang

 

 

 

Rekuiem

Tidur, air teluh membandang, mengguyur jasad kapar
Pasi melingkup sepanjang bibir bergeming
mengaburkan setapak memoar
yang curahnya lebih garang, lebih deras, lebih ngilu
dibandingkan ufuk November
                                                atau kisah cinta picisan milik kau.
Tidur, gemetar jemari orang-orang berpayung memberangus isak
Dengan kepala tegak teracung menyingkap lumpur-lumpur, kain putih
“Tidak ada yang  benar-benar pergi”, ucap mereka
Maka kepada kamboja kuyup aku berbisik:
“Adakah esok padaku sederai ini, seperti saat ini?”

 

 

Meta

Bilapun almanak bertanggalan, di cawan masih tersaji empedu, setetes darah, dan jalinan sulur yang memeluk erat                                          seerat serat ganja           Hingga mengitari dawai usia tiap sekon tanpa haul
 
Akan tumbuh syaulam, kukuh cadasnya abadiah menjalari sekujur sutra, tak rengat, tak menyublim, atau sanggup dihancurkan oleh mentari
 
Dan manakala cawan itu dipecahkan, dibinasakan puingnya, dari sana urat-urat nadi berpijar, terbias pada jari-jari periode menata lanskap, memicu konstelasi nebula kian beringsut, melarungkan abunya
 
Bilamana pula adalah niscaya, pada dawai yang tembaga, maka namakan ia lazuardi: biru pada garis monokrom.
 
Yang tak terbaca bugil nalar dan logika

 

 

 

Irene

Yang bias mataku
Tubuhmu: sejengkal inti bumi
      beratus-ratus tahun cahaya trisula

 

oleh Rye