Tidak Ada Korek Api Hari Ini

Tidak ada korek api hari ini.
Tidak ada api malam ini.
Aku berdua dan rokok tiada menyala.
Semua padam tak terkecuali.

Suara bisu adalah kamar rinduku.
Ku gigit jari sendiri.
Dan Djarum, kau tak mau aku mematikan lampu harapan.
Jendela terbuka
dan sebagian angin memasuki tubuhku.
Meriang. Meriang. Aku meriang.
Kau yang harum di hidung. Kau yang hangat di hidang.

Hari seperti ini selalu ada. Kemarin lusa juga sama.
Aku sendiri dan tidak menulis puisi berdua. Semua pekerjaan rumah tertunda segala.

Puisi adalah peron yang sibuk. Lantai dansa dan pasar malam. Palu dan arit. Kartu remi hitam putih. Aroma jeans penambang dan senyum janda yang tidak membiarkanku mencari persinggahan lain.
Tidak ada pengunjung. Tidak bisa berkunjung. Di balik jendela, hujan sedang turun.

Tidak ada korek api hari ini. Tidak ada api malam ini.
Aku menghapus seluruh terang sebelum pagi menerbitkannya.

 

 

 

Musim Sedang Berganti

Sesungguhnya musim sedang berganti

dan kota-kota masih menjadi basis perlawanan yang begitu-begitu saja;

Mahasiswa, pemuda dan pemudi bergerak melawan dan menolak

kaum kelas menengah turut dalam barisan

tetapi rakyat kecil, buruh pabrik dan petani tersisih dari rombongan

sayup nyaris tak terdengar

terbungkam di pintu masuk dari hitungannya yang kecil

Maha Mahasiswa siswa-siswi muda

anak-anak borjuis dengan pipi merah sehat menggemaskan yang tak pernah kurang makan

telpon pintar dalam genggaman

kebebasan dan rindu jadi obrolan

berlomba potret diri paling sopan paling peduli

mengurai deras tangis paling kasih paling mengerti

mural di tembok-tembok kosong

tongkat kayu dan batu jadi andalan

tak ada pemimpin dalam perlawanan, katamu tegas, menggebu penuh haru

hasutan khas dengan gaya yang paling baru

meniru protes orang-orang Hongkong

yang belum lama ini meminta Amerika untuk menolong

apa benar engkau sedang menyongsong revolusi seperti kata yang kau tulis di atas kibar spanduk mu yang mega?

lalu mengapa pabrik-pabrik masih terus bekerja?

barangkali sebab itu penguasa terus tertawa,

mengangkangi kaum mu yang tak bisa lepas dari romantisme reformasi

Oh.. alangkah gembur kata-kata mu dalam satir cinta-politis di potret secarik kertas yang menyelingi protes yang berderai

bakal apa kelak bersemai?

sesungguhnya musim sedang berganti

wajah siapa hendak kau lindungi?

 

 

oleh Piotor Kazan