Meracau

Diktum gontai yang berkelindan secara kedik dan genial soal lelanya seakan-akan menyiratkan bahwa, nukilan yang disertakan tidak terlalu memiliki nawaitu. Terkena sebuah penyakit nampaknya: Solastalgia. Begitu duskarsa dan taksa, terkadang ia langgas namun terkadang terpenjara, ia sangat senang berseloroh, padahal semua orang tahu ia begitu nisbi, karena disonasi korpus psikisnya. Rinai-rinai itu begitu indah. Ia melego dan terus melego, berharap ketika ia sedang mengentas, akan rengkah sebuah kredo tentang tamsil deviasi esoteris yang amat elitis. Juntrungan bagi semua umat yang merasa dirinya sangat masygul. Seperti orang-orang cantrik yang sayu dan diskursif, seperti para waham yang sering berbicara mengenai pasase yang fardu, seperti aku yang saat ini sedang meracau. Anjing, harusnya aku merancap saja tadi.

 

 

 

 

Kebaktian Tutup Tahun

Kebaktian tutup tahun. Selalu sama, biasa saja.
Kebaktian tutup tahun. Dosa, asa, dan rasa. Tidak berbeda.
Kebaktian tutup tahun. Mengenai Tuhan dan kemegahannya.
Kebaktian tutup tahun. Pecahnya kelahiran, luputnya kematian.
Kebaktian tutup tahun. Malam yang kudus, siang yang lengang.
Kebaktian tutup tahun. Satu dekade. Sepuluh ribu barikade.
Kebaktian tutup tahun. Resolusi. Konklusi. Basa basi.
Kebaktian tutup tahun. Nyanyian jemaat. Pelacur yang taat.
Kebaktian tutup tahun. Sebuah ledakan. Alam semesta dan kepingan tubuh.
Kebaktian tutup tahun. Selalu sama, biasa saja.
 

 

 

oleh pemburu-peramu