Notasi 27

Kota-kota akan redup saat tak ada lagi orang-orang menyadari kesesatannya. Lalu kau berharap kematian mengaminkan doa-doamu. Kau tak pernah sadar seberapa bajingan agama menjadi. Saat kau menuhankan raga yang kau harap bisa kau ajak menari di rimbunan dosa.

Luka-luka di jemarimu menjelma menjadi pilar garam di penghujung kota. Namun saat itu Tuhanmu belum belajar memainkan peran sebagai pemurka. Kering yang beriak di peparumu dinisbah sebagai air bah yang memisahkan nama-nama. Namun saat itu Tuhanmu belum berani untuk menerakai jangar ingatan.

Hiduplah seratus tahun lagi, atau mati lain hari, sebelum api bersihantam dengan api itu sendiri.

Kota-kota akan redup saat tak ada lagi pencuri yang mencintai emas. Lalu kau menyurati segumpal ayal di makam tak berjirat. Kau lumasi lidahmu dengan kemunafikan agar mantramu diberi jawab. Namun ular akan tetap membunuhmu saat kau melerainya untuk bercumbu dengan ular lain.

Pusaran taifun di kepalamu menjelma menjadi air mata. Namun saat itu nelayan tetap pergi berlayar melawan lautan. Roda bara di matamu dinisbah menjadi palu langit. Namun saat itu kemarau juga enggan untuk datang lebih cepat.

Hiduplah satu hari lagi, atau mati sekarang, sebelum kau lebih takut caramu mati dibanding kematian itu sendiri.

Kota-kota akan redup saat tak ada lagi ruang untuk sembunyi. Lalu kau dipasung saat kau dipaksa untuk berdansa. Kau biarkan tanganmu mengajari warna-warna untuk saling berbiak. Hingga mereka tak lagi mengetahui bagaimana caranya menikahi abu-abu.

Laki-laki di sekelilingmu menjelma menjadi senapan pemburu. Namun saat itu peluru mereka jauh lebih tajam dari ratapanmu. Perempuan di luar genggamanmu dinisbah sebagai cangkir-cangkir kotor. Namun saat itu tak pernah ada yang berani mengisinya.

Hiduplah sesaat lagi, atau jangan pernah mati, sebelum kau belajar mencintai diri sendiri lalu disakiti oleh diri sendiri.

 

 

 

Notasi 17

Seperti kau, seperti aku
Seperti gelap meruku-ruku
Seperti asingnya arus waktu
Seperti jamaknya lekuk abu-abu
Seperti tepis asap di ujung peparu
Seperti desing gagak yang bersiseteru
Seperti lepas nafas ibu di sunyi kelambu
Seperti tawamu yang hilang di saat meragu
Seperti gema di ruang orang-orang bercumbu
Seperti ratap senar-senar di tubuh arababu
Seperti selamat malam yang bersidahulu
Seperti dingin yang hilang di hari rabu
Seperti cendawan di lunas serempu
Seperti dalam setapak kaki karibu
Seperti liar kibas ekor beludru
Seperti rapat akar gaharu
Seperti aku, seperti kau

 

 

 

Notasi 26

Semenjak kau mulai belajar untuk merindukan gelap.
Semenjak aku mulai mengajarimu belajar untuk merindukan gelap.
Semenjak kau mulai mengajariku untuk mengajarimu belajar merindukan gelap.

Semenjak gelap mulai belajar untuk merindukan aku.
Semenjak kau mulai mengajari gelap belajar untuk merindukan aku.
Semenjak gelap mulai mengajarimu untuk mengajari gelap belajar merindukan aku.

Semenjak rindu mulai belajar untuk menggelapi kau.
Semenjak aku mulai mengajari rindu belajar untuk menggelapi kau.
Semenjak rindu mulai mengajariku untuk mengajari rindu belajar menggelapi kau.

Semenjak aku mulai belajar merindukan aku.
Semenjak gelap mulai mengajariku belajar untuk merindukan aku.
Semenjak aku mulai mengajari gelap untuk mengajariku belajar merindukan aku.

Semenjak kau mulai belajar untuk menggelapi rindu.
Semenjak rindu mulai mengajarimu belajar untuk menggelapi rindu.
Semenjak kau mulai mengajari rindu untuk mengajarimu belajar menggelapi rindu.

Semenjak gelap mulai belajar untuk mengakui kau.
Semenjak rindu mulai mengajari gelap belajar untuk mengakui kau.
Semenjak gelap mulai mengajari rindu untuk mengajari gelap belajar mengakui kau.

Semenjak empat di antara kita bersisetubuh.
Semenjak dua dari empat di antara kita bersisetubuh.
Semenjak dua yang lain dari empat di antara kita bersisetubuh.

Semenjak empat di antara kita adalah reka-reka.
Semenjak dua dari empat di antara kita adalah reka-reka.
Semenjak dua yang lain dari empat di antara kita adalah reka-reka.

Semenjak empat di antara kita adalah yang abadi.
Semenjak dua dari empat di antara kita adalah yang abadi.
Semenjak dua yang lain dari empat di antara kita adalah yang abadi.

Semenjak empat di antara kita menafasi dua yang lain.
Semenjak dua dari empat di antara kita menafasi dua yang lain.
Semenjak dua yang lain dari empat di antara kita menafasi dua yang lain.

Semenjak nafas reka-reka yang abadi bersisetubuh.
Semenjak reka-reka yang abadi menyutubuhi nafas.
Semenjak tubuh menafasi keabadian reka-reka.
Semenjak nafas menyetubuhi reka-reka yang abadi.

Semenjak kita dalam dua.
Mereka-reka dua nafas di dua tubuh dalam empat yang abadi.

 

 

 

Notasi 12

Tentang perempuan yang tak mengenal taksanya malam. Kukuh di kedua matanya, adalah tarup pejal pualam. Deriji itu lingsir, di makam anjiman karam. Dan tawang akan menemaninya, saat nabi memazmuri mantram.

Maka kusambang gigir berbanjar yang kian meninggi. Lalu hanyut dalam gempa lautnya yang menyembunyikan banji bahari. Tatap yang sekerat bersat, mengganggu rebah, dan akan selalu pegari. Dan masa sudah berkelaluan, dia bergema dalam basa madali.

Tentang perempuan yang melukis teluk-teluk cinnabar. Suam di rapat sakalnya, adalah ribang yang bertempiar. Mantiknya lamat melagu, bak bunga api di kepala sigar. Gelompar di kisi meja, melamun dalam gelayar.

 

 

 

Notasi 15

Anak-anak kita akan menjamak saat rawi melamun menenggara. Dinisbah seperti ragu jemari David saat merangkul belah dagunya. Lalu, di antara bisik mereka, bersembunyi semilir tawa. Yang ditulis dengan bahasa bayi di belantara orang-orang tua. Angan akan melupa, bagaimana cara mereka, menggiring karam bahtera di dalam labirin suara.

Anak-anak kita sedang menjamak saat bebukit memaram cuaca. Ditempa ibarat pejal besi putih di rangkul cawan pewarta. Langit sempat tak bertuan, dan mereka aku ajari cara menerka. Pada akhirnya, sembilan di antara mereka, menjelma sakal-sakal Ravana. Rayan akan berangus, saat tabir kita semai, dan tak lagi dibiar bermain pisau dan berpura-pura.

Anak-anak kita sudah menjamak saat api mendindingi kota. Mirat di mata mereka, rekah seperti rumput di atas pusara. Doa kepada Tiamat, dihatur bersama layang dan rintik kama. Lalu hari-hari menjadi rigid, dan kau, diam dalam ancam buku-buku perkara. Ruban akan ditepis, dicacah agar lamban ditakar, lalu rapal mantra mereka akan mengalir saat pagi menjadi buta.

 

 

 

Notasi 11

Di pelataran tempat Atreus dinisbah. Sebagaimana Midas yang dikoronasi sebagai ahli nifak. Thyestes belajar berdoa. Dengan darah yang laun menghampar di sela jemarinya. Hari itu, kota Seneca digambar dengan warna-warna api.

Salacia tak sempat mengajari anak-anak kita untuk berkuda. Sebab ia ahli dinding. Seperti mahligai taman di bukit Elisian. Troya menyenandika. Dan pahlawan itu, yang diurapi di dasar sungai Styx, ringgih memeluk tumitnya.

Maka, kita manusia, dilamun dalam gertak bisu cerita orang buta, serta parau-parau suara, dari berpuluh taat muridnya.

 

 

 

Notasi 20

Membias dari gang-gang kecil, tempat muslihat sepuh bersitegang. Di antaranya angin menyelatan membawa kabar gembira dari negeri seberang. Seperti sungai tempat Musa diajari Tuhan berenang. Demikianlah air matanya gugur bak patera di tanah-tanah kerontang.

Perempuan itu, bersimpuh di antara alisnya, adalah dinding perigi. Gemulai simpangan nafasnya sesak melewati pucuk deriji. Getar di kedua lututnya berpindah antara lamun dan nafsu pegari. Dan kempuh bayangnya membuntuti ratus nubuat rasuli.

Gedung-gedung itu memberangus jenama kawanan domba. Lalu melengganglah pialang norma di pelipis alun-alun kota. Sarat kepadanya, adalah sakal yang dibumbung atas suar si adiraja. Maka ia cari camar seteru, bintik damar, dan monokromatika pirsa.

Setiap bayi yang lahir tanpa jeritan akan dipialai dengan api menabun. Menebas rantai-rantai kapal, di kelilingi kemenyan, dihampar ke ujung kurun. Dipaksa menunggangi unta, didiktat mendarahi talmud, juga bersetubuh dengan gurun. Lalu nantinya, siul lidah mereka, akan dijirati dengan seribu pantun.

Ibu, anak-anak kita akan pulang dengan selerang yang dirajut dengan dendam. Di antara pinggangnya adalah cenangkas yang diasah amuk nirredam. Pada mirat irasnya adalah sumarah yang dimartil untuk mengekali pualam. Dan padang ilalang tempat mereka merekah dibanjiri sesak sabda di pendidihan malam.

 

 

 

Notasi 14

Di bawah gerilya angin yang menyelatan, bersamanya tabun asap sigaret dibawa siur ke sudut-sudut pintu. Hari ini lelaki itu merantai pundi-pundi ingatan. Tentang rasa lapar, nafsu kelana, atau gelegak embun di ceruk mata tengkorak pada lima padang pasir yang rukun berdampingan. Tidak seperti masa-masa lampau, gelap kotanya kini dibakar pudar lampu-lampu. Parau suara anjing tidak terdengar. Kota itu riuh dengan derap kaki tentara. Dan aroma peluh orang-orang mati. Dia kembali untuk berkesah pada ilalang, berbisik pada kusam jendela, berkelahi pada gamangnya rasa rindu yang bersahutan. Acuh padanya, adalah tatap manusia urban. Merangkumnya sebagai pembeda. Menggurat namanya di lembar-lembar larangan. Dinding kini dibungkam dengan kaku bahasa yang dipaksa untuk mondial. Langit sudah tak diperbolehkan memuntahkan benang dewa. Kota ini bianglala, yang merajut bahagianya dalam ketidakbergerakan. 

 

oleh patipadam