I

ayo kamu coba mampir ke ingatan orang semalam saja
supaya rasa penasaran bisa dibunuh pelan-pelan dalam tidurnya
warna langit memuda, alarm menggema, dan yang kau temukan
hanya mayat yang masih tak jera

ayo kamu coba jadi orang dewasa seabad saja
supaya masalahmu yang sok besar itu tiba-tiba menciut sekecil tikus
dada lebih lapang, tanpa ada yang mengisi, dan yang kau temukan
hanya lampau yang masih menetek dari ibunya

ketika semua kamu telah diisi oleh gambaran orang lain
semua yang tersisa hanya kolase. kamu lupa yang kamu ingin.
padahal yang kamu cerna tetap dari mulut sendiri,
dimensi keempat masih cuma basa-basi sore hari.

malam menyongsong, kurasa kuasnya terlalu kuat ditebas
dan mungkinkah
sedikit gelapnya menempel di belakang kepala tanpa ada yang mau sadar?

 

 

 

II

Kenapa masih menggambar dengan kata-kata jika waktu adalah narator terbaik di antara semua?

Ini adalah kompetisi yang tidak bisa dimenangkan.

Hanya butuh waktu singkat untuk membuktikan darah adalah bahasa.

Darah adalah jiwa yang berkeliaran sambil mengangkut sedih di setiap keberhasilan.

Rusak, dan tunggu semoga semua seperti semula.

Angkut dan tahu kalau semua adalah palsu.

Masa depan tidak menjanjikan apapun, tapi dusta kalau tubuh ini tidak menggelinjang, meraih setiap sudut kamar dengan segala keterbatasannya.

Buat jantungku berdebar lebih cepat, mesin torpedo berbahan bakar keraguan, dag dig dug dag dig dug setidaknya tidak perlu jadi apapun.

Satu teriakan selalu terdengar berbeda-beda di padang rumput. Semuanya sepakat meminta pertolongan.

Aku ingin bisa membayangkan.

Karena setiap kali mata tertutup, yang ada hanya kelam. Kelam dan satu, menelisik seluruh tanpa ingin tahu. Yang kian besar penuh dengan ego. Tapi masih tetap kelam.

Aku hanya tahu satu skenario. Akan lebih baik kalau aku tahu berjuta.

 

oleh nokitron