Tulisan Yang Mungkin Akan Kau Temukan Di Dua Hari Kematianku

Sesungguhnya saya ingin juga menulis tentang betapa indahnya senja, betapa sakitnya patah hati, betapa nyerinya merindu, ataupun betapa bahagianya mencinta

Saya tak pernah hentinya mencari di antara ruang-ruang dalam kepala, sudah mencari kesana kemari namun tak menemukan apa-apa, semua hanya gelap dari yang gelap biasa sampai bahkan gelap gulita

Sampai pada satu ruang di kepala saya, saya menemukan anak perempuan duduk di sudut ruang dalam kepala, sedang menangis, dan yang menakutkan adalah air mata yang iya keluarkan adalah darah, ketika dua langkah ingin menghampiri, ia berkata cukup tunggu di situ

Ia hanya berpesan bahwa saya harus menuliskan kisah tentangnya

Kau tak usah mencari apa pun, tulislah kisah tentangku, yang tak pernah tau apa itu cinta senja patah hati ataupun hal-hal bahagia yang pernah kau rasakan

Ingin rasanya saya bertanya lebih jauh, namun tangisnya semakin kencang dan memekikan telinga, air matanya mengeluarkan darah sampai menenggelamkan saya

Sampailah pada saat ini dengan segala keanehan, kengerian, ataupun kegilaan dalam tulisan-tulisan saya

Namun ia tetap datang dan sering sekali berbisik di dalam kepala, dan ia berkata,
“Mari bersamaku temani aku, menjalani hidup di dalam kepalamu sendiri.”

Dan itulah alasan saya disini sekarang, diatas kursi dan dengen leher yang sudah dikalungkan tambang di dahan pohon rambutan

 

 

 

Nisan

Kau datang ke pemakamanku
Dengan mengenakan pakaian serba hitam
Kau mengepalkan kedua tangan, dan mulai berdoa
Aku bukan Tuhan, aku tak tahu kau sedang berdoa apa untukku, namun yang pasti air mata menetes dipinggir dua bola matamu yang teduh
Setelah selesai, kau menyiramkan air ke kuburanku dan tak lupa menamburkan bunga
Sebelum kau beranjak dari kuburanku
Kau menyentuh batu nisanku

Dan percayalah
Sentuhan terakhirmu di batu nisanku adalah sentuhan paling cinta yang tak pernah ku dapat darimu, ketika aku masih hidup, masih mendoakan kebahagiaanmu, dengan kekasihmu

 

 

 

 

Aku Tahu

Aku tahu
Dikursi itu 
Cumbumu beradu
Meneguk ludah
Sembari beradu lidah
Amat syahdu
Seperti sepasang
Yang lama tak bertemu

Aku tahu
Dikursi itu
Saat perlahan
Kau lucuti pakaianmu
Lalu, terpampang jelas
Keindahanmu
Dia mencumbumu dengan beringas
Seperti gunung yang
Habis dipangkas investor rakus

Aku tahu
Dikursi itu
Wangi tubuhmu beradu
Sambil sedikit mengaduh
Lalu berpeluh
Sembari mengusap keringat
Seperti orang yang berlari amat jauh

Aku tahu
Dikursi itu
Doamu beradu
Agar tak ada yang mendua
Diantara kalian berdua

Walau akhirnya
Aku tahu
Doa kalian berdua
Hanya penenang semata
Agar tak ada air mata
Yang turun ketika bercinta

Akhirnya
Kau hanya mewariskan
Kenang
Saat bercinta sepanjang senang

Dan kamu harus tau
Aku tak peduli itu

 

 

 

Masa lalu, kunang-kunang, dan Moonlight Sonata

Untuk Dewaniasmara

We don't need mirrors anymore to talk to ourselves
We are made of dreams and dreams are made of us

- Jean Luc Godard

Dew, sebelum tidur ambil selembar kertas tulis permintaanmu
Ingin mengembalikan waktu, untuk memperbaiki beberapa kesalahan di masa lalu yang masih menghantuimu di masa sekarang
Dan
Tulis permintaanmu untuk bertemu kunang-kunang, binatang yang ingin sekali kau temui, yang sekarang sudah tak ada di kotamu
Setelah kau tulis itu semua, taruh kertas tersebut di bawah bantalmu, lalu tidur

Kelak kau akan bermimpi ke masa lalu, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang masih menghantuimu
Setelah itu kau akan berada di atas bukit yang dipenuhi ilalang, yang dimana kau akan ditemani banyak sekali kunang-kunang
Dan tentu saja sembari ditemani bulan yang temaram, serta lagu Moonlight Sonata yang berkumandang

Ketika kau bangun kau akan menjadi manusia yang paling ikhlas dan bahagia
Kau akan merasa sudah mengikhlaskan segala kesalahan dimasa lalu
Dan
Kau akan merasa bahagia karena sudah bertemu kunang-kunang, binatang yang ingin sekali kau temui, yang sudah tak ada di kotamu

 

oleh menyembahkucing