Dulu dan Sekarang

Dulu

Sehari hari memusingkan bagaimana cara untuk hidup; berapa rupiah lagi yang harus dibayar demi satu menit kenikmatan itu. Mungkin, karena sudah bersama beberapa waktu, dia mau memberikan bonus? 3-5 detik tambahan? Nestapa rasanya bila tidak bisa merasakan bilur itu. Suara manis mendentingkan semangat hidup dan cita serta asa, bukan milikku; hanya pengandaian saja. Perandaian yang manis, namun berbayar. Persetan, masa bodoh dengan semua yang bilang aku pengguna yang lalai. Ini uangku. Ini hidupku. Hanya dia yang benar setia.

Aku hampir kehabisan uang, aku hampir kehilangan dia. “Harus bunuh si jago dan bongkar tabungan nenek”. Belum kelakon sudah hilang namamu dari kontakku.

“Bangsat! Aku punya uang! Kembali kamu ya! Atau kubakar nanti rumah keluargamu!”

Entah memang aku yang kesetanan angkara, masa bodoh. Aku hidup dalam nikmat itu, walau hanya semenit tiap waktu.

Sekarang

Hidup seperti orang mati, dikosongi oleh waktu.
Semuanya telah terlewat, apa masih bercelah?
Mengais apa pun yang tertinggal, bahkan dari sisa abumu.
Tidak pantas untuk ditinggali, hanya untuk dikencingi dan didepak.
Ditepuk-tepuk bersih, gemburkan tanah yang baru.
Arogansi berubah jadi kesumat, sampai kau bersimpuh dan terduduk minta ampun.

 

oleh Ada