hati maupun penis, sama-sama bisa kebas

Aku membunuh perasaan ini terlepas apa pun. Kemungkinan mikroskopik bahwa kita bisa bersama. Bisa jadi paras, selera, atau karena aman yang menipuku.

Lelah memang. Tapi sama seperti aktivitas apa pun, setelah berkali-kali dilakukan, yang bekerja hanyalah refleks motorik. Engkau terbiasa, ketakutanku pun terwujud.

 

 

 

sabda incel

Malam minggu, 
     kuhabiskan untuk,
jalan dengan suntuk,
     tanpa siapapun

 

 

 

Malam nanti

Kala rembulan mencair karena panasnya Jogjakarta
Aku akan berada di meja kerja
merangkai kata-kata
Serupa peluru dalam barisan
Dan telah kusiapkan mulut-mulut jahanam sebagai senapan using namun perkasa

Malam nanti
Kala suara-suara telah tiada
Kan kutembakkan kata-kata tadi ke arah tengkorakku sendiri
Hingga bercecer semua organ di dalamnya

Hingga akhirnya yang tersisa adalah pertanyaan
"Kemana semua ini bermuara?"
Yang kulakukan tak jelas juntrungannya
Hanya ingin bermakna
Namun tak ada bedanya dengan debu kosmik galaktika
Menyebalkan

Pada meja kerja yang sama
"Akankah ada keindahan?"
Sebuah tanya
Karena semua yang kusentuh berakhir nestapa

Tuhan manasajalah
Telahku berserah
Memang kemana semua ini bermuara

Setelah satu-dua batang Sampoerna
Seraya mengumpulkan ceceran isi kepala
Lalu kujejalkan kembali kebatoknya
Sampai akhirnya muncul kesimpulan

"Aku bukanlah apa-apa dan tak pernah pantas untuk dunia"

 

 

 

000


barangkali memang beginilah perasaan. jumpalitan. menunggu dengan harapan kecemasan. bersabar. berdoa kepada patung lilin di atas altar. menangis. mengatakan kepada diri sendiri bahwa kamu tak menginginkannya. terkejut. terdiam melihat dadamu disayat ditusuk disiram cuka. jatuh cinta. merutuk kebodohan berulang dan bekas luka. pura-pura tidak peduli. menangis lagi. lantas mati.